GrowUrl.com - growing your website
Tampilkan postingan dengan label Balita Anda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balita Anda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2008

Penanaman Disiplin Kepada Anak


Balita Anda. Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tidak fleksibel?

Tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak adalah baik. Hal-hal yang bisa (biasa) dilakukan oleh para orangtua antara lain setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar rumah, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun juga harus memakai piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Harapan sewtiap orang tua hal tersebut dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.

Balita Anda. Yang menjadi masalah, tanpa disadari, ternyata rutinitas tersebut ternyata malah dapat membuat anak menjadi enggak fleksibel. Anak bisa menjadi marah-marah bila rutinitas tersebut tidak dijalankan. Misalnya pada ganti baju biasanya buka baju dulu baru kemudian celana , tetapi kadang orangtua/pembantu buru-buru dan yang pakaian yang dilepaskan celannya dulu, ini kadang dapat menimbulkan protes anak dimana dia ingin bajunya dilepaskan dulu baru celana kemudian pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi, walaupun kadang sudah dijelaskan namun tetap saja si anak tidak mau mengerti.


PENDAPAT PAKAR
Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Menurutnya, banyak kasus diatas yang dialami oleh orang tua dan anak. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Apakah ada penyebab yang lain ?"
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mencari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."


SISI POSITIF DAN NEGATIF
Balita Anda. Sebenarnya, kata Yelia, perilaku anak tersebut masih wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.


VARIASI MENJADI SALAH SATU SOLUSINYA,
"Bagaimana bila orang tua sudah telanjur, menerapkan rutinitas diatas ?"
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Fleksibel bukan berarti berubah-ubah. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."


Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.


Balita Anda. Nah para orang tua jangan kaku dalam menerapkan disiplin kepada anak, variasi dalam penerapan disiplin dan kebiasaan, sangat membantu pola pikir anak bahwa disiplin tidak berarti harus kaku.




Semoga bermanfaat




Disadur dari :Tabloid Nakita


Rabu, 03 September 2008

Gizi Buruk di Tengah Kemegahan Kota

Gizi.net - Gizi buruk akan terus berputar di tengah kemiskinan. Tanpa kepedulian pemerintah, warga miskin tak bisa mengubah kualitas hidupnya. Status gizi yang baik sangat diperlukan untuk anak di bawah lima tahun (balita). Pada usia ini pertumbuhan dan perkembangan otak sangat pesat. Fase-fase pertumbuhan tersebut akan terlewat jika gizi penunjangnya tidak terpenuhi.Pertumbuhan otak balita bisa tidak optimal bila terus kekurangan gizi. Akibatnya, kemampuan berpikirnya terbatas. Jika angka kasus seperti itu sangat tinggi, rantai generasi bisa terputus. Kasus balita kekurangan gizi juga terjadi di Jakarta Barat. Sedikitnya 132 balita di wilayah itu berstatus gizi buruk. Angka tersebut ditemukan melalui survei terhadap delapan kecamatan di Jakarta Barat. ''Kasus gizi buruk lebih banyak disebabkan oleh faktor sosial ekonomi masyarakat,'' ungkap Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Barat, dr Tini Suryanti.Berdasarkan data Sudin Kesehatan Masyarakat Jakarta Barat, dari 2.673 balita yang disurvei 4,9 persen terdiri dari balita berstatus gizi buruk. Dibandingkan pemkot lainnya, Jakarta Barat tergolong paling banyak memiliki balita yang berstatus gizi buruk. Menurut Tini, kenyataan itu tentu sangat mencemaskan. Dia menyarankan ibu yang sedang mengandung mengonsumsi makanan yang bergizi. Lalu, setelah mereka lahir hingga umur lima tahun juga harus tetap mendapatkan suplai makanan yang bergizi. ''Dengan gizi baik yang dihasilkan adalah aset. Namun, jika gizi buruk justru di masa mendatang menjadi beban,'' ujar Tini.Status gizi kurang tersebut dapat dilihat dari hasil kartu menuju sehat (KMS). Balita-balita tersebut memiliki berat badan di bawah garis merah. Artinya, jumlah gizi yang diperoleh masih kurang dibandingkan dengan kebutuhannya.Balita dengan kasus gizi buruk tersebut paling banyak dijumpai di Kecamatan Palmerah. Faktor kekurangan gizi pada balita di kecamatan tersebut lebih dikarenakan oleh kondisi sosial ekonomi masyarakatnya yang masih kurang mampu.Selain itu, tingkat pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap konsumsi gizi balita. Makanan bergizi yang seharusnya dikonsumsi balita bukan sekadar makanan mahal. Makanan bergizi dari bahan-bahan nabati pun sangat baik dan tidak terlalu mahal. Namun, faktor kekurangan gizi tersebut masih teratasi dan belum sampai menderita kwasiorkor (busung lapar karena kekurangan protein) dan marasmus (kekurangan kalori). Jika kasus tersebut terjadi maka penanganan selanjutnya tidak hanya melibatkan ahli gizi, tetapi juga diperlukan penanganan langsung dari dokter.Kekurangan gizi ini disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi. Penanganan terhadap kasus-kasus kekurangan gizi ditempuh dengan memberikan makanan tambahan bergizi secara gratis kepada balita-balita keluarga miskin.Masyarakat juga harus senantiasa diberi masukan untuk meningkatkan konsumsi gizi pada balita. Dewan kelurahan, kader posyandu, serta lurah juga dilibatkan untuk ikut mengatasi kasus gizi buruk pada masyarakat. ''Pihak aparat desa diharapkan turut mencari program pemecahan masalah gizi,'' kata Tini. Menurutnya, beberapa aparat desa yang terdiri dari lurah, dewan kelurahan, dan para ketua rukun warga (RW) dilibatkan dalam diskusi untuk turut memecahkan permasalahan gizi di wilayahnya. Selain program, aparat desa juga diharapkan turut mencarikan sumber dana pemenuhan kebutuhan gizi. Dekel dan kader diharapkan ikut mengatasi gizi buruk.Optimalkan PosyanduDi Jakarta Barat masih sangat sedikit ibu yang mengantarkan balitanya ke pos pelayanan terpadu (posyandu). Padahal, posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk memantau pertumbuhan dan gizi balita.Kegiatan rutin yang dilakukan di posyandu diarahkan untuk memantau pertumbuhan balita yang dilakukan melalui kartu menuju sehat (KMS) setiap bulannya. Posyandu juga memberikan konsultasi gizi, pelayanan gizi, serta kesehatan dasar. ''Di posyandu diberikan contoh-contoh makanan sehat untuk balita,'' ujar Tini. Makanan sehat yang dikonsumsi tidak harus mahal.Untuk protein nabati bisa dengan mengonsumsi tahu dan tempe. Kedua jenis makanan ini sangat murah dan bergizi. Gizi balita juga ditunjang dengan makanan pendamping air susu ibu (ASI) untuk anak usia enam hingga 11 bulan. Misalnya, tim ayam, kacang-kacangan, serta sayur.Kekurangan gizi cenderung terjadi saat pemberian ASI berhenti. Hal terburuk dari akibat kekurangan gizi bagi balita adalah terjangkitnya penyakit kwasiorkor dan marasmus. Jika balita terserang kwasiorkor, mengakibatkan anak tak bisa menolak segala jenis penyakit (anoreksia), pembesaran hati disertai infeksi, anemia, dan diare. Jika terserang marasmus balita dapat menderita diare kronik serta mengalami tekanan. Detak dan napas berkurang.Apalagi jika masalah kekurangan gizi terjadi pada ibu hamil. Bukan janin dalam kandungan saja yang ikut terancam kehilangan kualitas kecerdasan, tapi juga anak-anak dalam masa tumbuh-kembang. Terlebih lagi bila masalah ini terjadi di kota besar, seperti Jakarta, yang frekuensi dan volume polusinya sangat besar. Kandungan zat berbahaya, seperti logam berat pada emisi kendaraan, akan terisap oleh si ibu dan mengalir melalui darah menembus ari-ari sebagai barrier. Semua kandungan logam berat tadi mengganggu pertumbuhan dan fungsi otak ketika janin itu dilahirkan. Timah hitam ikut mencemari sayur dan buah-buahan yang dikonsumsi anak-anak. Beberapa tahun yang lalu United Nations Environmental Programme (UNEP) menempatkan Jakarta sebagai kota terpolusi nomor tiga di dunia setelah Meksiko dan Bangkok. Bisa dibayangkan betapa parahnya ancaman polutan emisi gas buang di metropolitan ini.Padahal, tanpa harus berhadapan dengan fakta tersebut anak Indonesia sudah tergolong lemah dan memiliki angka kematian tinggi. Berdasar catatan UNICEF, laju tingkat kematian anak Indonesia termasuk tinggi dibanding negara tetangga, seperti Thailand dan Malaysia. Sebagai perbandingan, pada tahun 1997 tingkat kematian anak di Jakarta mencapai 28, di Kalimantan 67, sedangkan di NTB mencapai 81 per seribu kelahiran. Di Thailand 30 dan Malaysia sembilan.Data UNEP lainnya menyebutkan, mayoritas anak Indonesia lebih rentan terserang penyakit dibanding dengan anak dari negara lain. Ini tak lain dipicu masalah kekurangan gizi yang sejak lama menjadi kendala utama pembangunan bangsa. Departemen Kesehatan (Depkes) mencatat pada 1999 ada sekitar delapan persen anak Indonesia kekurangan gizi. Ini artinya ada sekitar 1,8 juta anak balita di seluruh Indonesia menderita malnutrisi. Namun, realitas yang ada di lapangan bisa lebih dari itu.Secara nasional, kasus kurang energi protein (KEP) memang masih tinggi. Kondisinya makin parah karena kasus lain juga muncul, seperti anemia gizi besi, kekurangan yodium, dan kurang vitamin A.Kwasiorkor dan marasmus inilah yang menyebabkan angka KEP terus tinggi. Pada 1995 diperkirakan ada 35,4 persen anak balita yang mengalami kekurangan energi protein. Kasusnya pada 1998 meningkat, mencapai 39,8 persen. Bahkan, Unicef memperkirakan 50 hingga 70 persen anak balita di Tanah Air mengalami gizi yang sangat buruk hingga menimbulkan korban jiwa. Fakta buruk tersebut juga tecermin dalam human developmet index (HDI) Indonesia yang masih yang terburuk dibanding negara-negara lainnya. Tahun lalu HDI atau indeks pembangunan manusia (IPM) mencapai 0,682 persen, padahal tahun sebelumnya 0,684 persen.Kemakmuran suatu wilayah akan terlihat dari nilai IPM wilayah yang bersangkutan. Kalau nilai IPM tinggi maka tingkat kesejahteraan masyarakat wilayah tersebut semakin baik. Ini karena IPM mengukur tiga dimensi pokok pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar penduduk, yaitu 1) umur panjang dan sehat yang mengukur peluang hidup, 2) berpengetahuan dan berketerampilan, dan 3) akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak. Indeks yang tingkat pendapatan, harapan hidup, dan pencapaian pendidikan ini menunjukkan bahwa tahun lalu Indonesia hanya menempati urutan ke-112 dari 175 negara yang disurvei. Indonesia tentu harus bergerak cepat agar bisa mengubah citranya di mata internasional. Berdasarkan HDI, Indonesia terasa tidak punya harga diri. Indonesia tertinggal jauh dibanding dengan negara lain. Vietnam saja sudah menyusul dengan HDI 109. Indonesia hanya di sedikit atas Kamboja (130, Myanmar (131), dan Laos (135).Jakarta saja masih menyedihkan, apalagi dengan kota-kota lain di Tanah Air. Anak yang kekurangan gizi masih tinggi. Bila fakta ini terus bertambah, lalu pada saat yang bersamaan udara juga terus terpolusi maka kualitas anak akan menurun. Keduanya sama-sama berdampak buruk, bisa mengakibatkan terjadinya kemerosotan tingkat kecerdasan.

Sumber : http://www.republika.co.id

Selasa, 26 Agustus 2008

Anak Susah Konsentrasi (Gangguan Pemusatan Perhatian)

Di jaman sekarang ini, makin banyak penderita autisme, hiperaktive, atau atensi. Sedikit tentang gangguan atensi atau pemusatan perhatian atau konsentrasi akan di bahas dalam tulisan ini. Tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan untuk mengatakan bahwa seseorang (anak) mempunyai gangguan atensi. Hal ini berkaitan dengan managemen dan terapinya. Oleh karena itu kadang diagnosa yand dilakukan tidak cukup hanya sekali pertemuan kadang dibutuhkan berkali-kali pertemuan untuk menentukan diagnosa yang tepat. Di bawah ini adalah observasi yang dapat membantu anda dalam pengamatan apakah putra anda memiliki gangguan pemusatan perhatian atau gangguan atensi. Bila terdapat gejala dibawah ini segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis rehabilitasi medik yang akan bekerja sama dengan dokter THT dan dokter jiwa anak. Semoga membantu Observasi klinik atensi
1. Mudah beralih perhatiannya (karena melihat atau mendengar sesuatu), perhatian beralih minimal 3 kali selama tes karena stimuli lingkungan.
2. Aktivitas tinggi, selalu berlari berkeliling & tidak mampu duduk selama melakukan satu aktivitas; meninggalkan meja 3 kali atau lebih selama tes; mungkin berdiri di atas meja tes, selama tes memerlukan istirahat beberapa kali.
3. Hanya bermain sebentar dengan satu mainan, untuk kemudian beralih ke aktivitas yang baru.
4. Impulsif dalam memegang sesuatu, perlu diingatkan 3 kali atau lebih sebelum menyentuh sesuatu.
5. Menghilang dari aktivitas, sulit untuk ikut aktivitas kembali, perlu respon segera.
6. Tidak dapat beralih fokus dari satu obyek ke obyek lain setelah bermain dalam periode yang lama.
7. Mudah menyerah; bila frustrasi dan perlu dorongan untuk terus melakukan aktivitas.
8. Hanya memilih tugas yang mudah.
9. Kegiatan tak bertujuan, tanpa eksplorasi yang terpusat.
10. Tergantung pada orang dewasa untuk memusatkan perhatian selama aktivitas bermain.
11. Menjadi sangat gembira bila berada di keramaian, misalnya di pasar swalayan atau restoran yang ramai.

PERATURAN MAKAN UNTUK WAKTU MAKAN
1. Tetapkan jadwal waktu makan. Bila anak tidak makan pada waktunya, hindari memberi makan pada jam yang lain. Bertahanlah pada jadwal. Jadwal terdiri dari 3 kali makanan utama dan 2 kali makanan kecil. Jangan diberikan makanan kecil ekstra, meskipun anak belum makan pada salah satu waktu makan. Hal ini akan membuat anak mulai mengerti rasa lapar dan kapan dia makan bila merasa lapar. Bila waktu makan akan tiba, bicarakan mengenai rasa lapar. Setelah makan, bicarakan mengenai rasa kenyang.
2. Jangan khawatir mengenai berapa banyak yang dimakan waktu jam makan. Bila sudah selesai makan, segera bereskan makanan. Bila anak tidak dapat bermain di lantai tanpa pengawasan, cobalah memberikan beberapa gelas ukur, Tupperware dan sendok kayu selama dia ada di kursi tinggi. Saatnya anda menyelesaikan makanan anda sendiri.
3. Mulailah dengan makanan yang dapat dimakan sendiri oleh anak, seperti pisang atau roti tawar.
4. Di samping menggunakan sendok, dimana anak seringkali menolak setelah mengalami muntah, gunakan sesuatu yang lain – seperti sikat gigi Nuk, atau roti batang untuk dicelupkan ke yogurt, puree buah, puding. Yakinlah menggunakan makanan yang dapat memotivasi anak, misalnya roti batang sebagai alat makan. Biarkan bayi anda mencelupkan roti batangnya sementara anda membantu anak yang lain. Selalu perhatikan apakah dia selalu dalam kontrol dengan ‘alat makannya’. Anda dapt mengenalkan sendok kembali setelah roti batang atau sikat gigi Nuk mulai bekerja.
5. Selalu memakan sesuatu dengan anak anda. Hal ini mengenalkan waktu makan dan membuat dia tertarik untuk makan juga. Hati-hati jangan berdiet bila melakukan program ini. Karena anak akan pendapat kesan bahwa anda menghindari makanan untuk menurunkan berat badan dan akan meniru perilaku anda.
6. Semua makanan ada di kursi tinggi atau tempat duduk lain yang sesuai. Jangan makan selama anak mengelilingi rumah atau sedang berada di tempat lain ( misalnya bak mandi atau mobil )
7. Pindahkan piring, makanan, cangkir dll bila mereka melemparnya. Berikan satu peringatan yang jelas ” jangan dilempar”. Bila masih melempar, turunkan anak dari kursi dan hentikan acara makan.
8. Arahkan anak untuk makan sendiri bila memungkinkan. Untuk anak yang kecil yang belum dapat memakai sendok karena mereka belum mampu mengendalikannya.
9. Batasi waktu makan 30 menit. Akhiri makan lebih awal bila anak membuang, melempar atau bermain dengan makanan atau melakukan perilaku disruptif lain. Bila anak tidak makan, ambil makanan setelah 10 atau 15 menit.
10. Pisahkan waktu makan dengan waktu bermain. Jangan memberikan mainan di kursi tinggi atau meja makan. Jangan bermain pada waktu makan. Jangan menggunakan permainan untuk menyuap dan jangan menggunakan makanan untuk bermain.
11. Jangan memuji anak bila dia makan dan mengunyah. Perlakukan acara makan dengan wajar. Tidaklah wajar untuk memuji karena anak makan dan mengunyah.
12. Jangan melakukan permainan dengan makanan ke dalam mulut anak
13. Jagalah ekspresi tidak setuju dan frustrasi bila anak tidak mau makan
14. Berikan makanan padat dahulu baru diikuti cairan. Minum akan mengisi lambung sehingga anak tidak merasa lapar.
15. Rasa lapar akan memotivasi anak untuk makan. Jangan memberikan sesuatu diantara waktu makan, termasuk susu atau jus. Anak akan minum bila haus.
16. Buatlah waktu khusus bermain sebelum atau sesudah makan untuk memberikan perhatian pada anak dengan cara yang positif.
17. Pergunakan waktu makan sebagai waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Dalam hal ini perhatian terpusat pada sosialisasi daripada mengkhawatirkan seberapa banyak anak makan. Yakinkan bahwa TV sudah dimatikan.
18. Semua pengasuh harus menjalankan program ini atau program tidak akan berjalan.

Problem Kontrol Motorik pada Anak
1. Seringkali merusakkan – terlihat tidak dapat menilai seberapa keras dan lunaknya mainan untuk ditekan.
2. Melewati rintangan atau menjatuhkan diri
3. Sering jatuh ( pada usia lebih dari 18 bulan )
4. Postur tubuh merosot waktu duduk atau berdiri
5. Menyandarkan kepala pada tangan atau lengan
6. Memilih untuk berbaring daripada duduk atau lebih baik duduk daripada berdiri.
7. Menggenggam obyek tidak kuat ( pensil, gunting atau sendok ) atau menggenggam terlalu kuat.
8. Cepat lelah selama aktivitas fisik
9. Sendi longgar dan lentur, dapat duduk dengan posisi tungkai seperti huruf W
10. Kesulitan memanipulasi obyek-obyek kecil, seperti mengaitkan.
11. Makan dengan cara yang tidak rapi
12. Tidak mempergunakan 2 tangan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan 2 tangan seperti memegang kertas selagi menggambar, memegang gelas selagi menuangkan.

Problem Perencanaan Motorik pada Anak
1. Takut mencoba aktivitas motorik baru ; suka melakukan hal yang sama dan dapat diperkirakan( misalnya aktivitas rutin )
2. Kesulitan membuat perubahan dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya.
3. Harus dipersiapkan beberapa kali sebelum satu perubahan diperkenalkan
4. Tidak dapat merencanakan urutan aktivitas; memerlukan struktur dari orang dewasa.
5. Mudah frustrasi
6. Aktivitasnya sangat terkontrol
7. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
8. Agresif dan destruktif dalam bermain
9. Mudah temper tantrum
10. Tidak dapat merangkak sebelum mulai berjalan
11. Kesulitan dalam berpakaian dan merangkai gerak.
Sumber : Kobal Sangaji Spesialis Rehabilitasi Medik RSUD Bunder Gresik

Senam Otak Dapat Meningkatkan Konsentrasi Anak

Liputan6.com, Jakarta: Tampak senang dan gembira. Di bilangan Jakarta Selatan, belum lama ini ada sekelompok anak yang menikmati setiap gerakan senam yang diajarkan. Namun ini bukanlah sembarang senam. Ini adalah senam otak. Tentu saja bukan dengan menggerakkan otak.
Adalah Lely Aromawati Tobing yang mempopulerkan senam ini di Indonesia. Wanita dengan latar belakang pendidikan bisnis ini tertarik mempelajari senam otak di Australia dan Singapura. Ini lantaran kesulitan belajar yang dialami anak keduanya, Marco. Dengan latihan rutin senam otak, kesulitan belajar yang dialami Marco bisa teratasi. Setidaknya, anaknya kini bisa lebih berkonsentrasi dan tenang dalam belajar.
Gerakan senam sederhana itulah yang selalu diterapkan Marco setiap mau belajar. Dan kemampuan ini pun diberikan pada anak-anak yang belajar di Sekolah Twinkle Stars, Cilandak, Jaksel, yang dikelolanya. Senam otak terintegrasi menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah. Satu di antaranya dengan gerakan silang. Gerakan ini akan membantu koordinasi kerja otak kanan dan kiri agar lebih seimbang sehingga meningkatkan daya konsentrasi anak.
Di samping itu, Lely menggabungkan dengan latihan motorik kasar dan halus pada anak-anak. Gerakan loncat dan berjalan zig-zag adalah salah satunya. Semua gerakan dilakukan dengan riang gembira dan anak-anak pun menikmatinya.
Sebagai guru, Lely boleh bangga telah menyumbangkan metode pendidikan yang terbukti telah bisa meningkatkan kecerdasan anak muridnya. Memulai dari keluarga sendiri, mengembangkan dan menyumbangkannya ke masyarakat, inilah yang menjadi esensi penting pendidikan dan pengajaran seperti yang dilakukan Lely Tobing.
Disarikan dari : Tim Liputan 6 SCTV

Selasa, 19 Agustus 2008

Jangan Menghadapi Anak yang Marah dengan Kemarahan.

Jangan menghadapi anak yang marah dengan kemarahan.Sering kali kita dibuat pusing dan stress menghadapi anak yang sedang marah, bahkan tidak jarang dari kita yang malah lebih marah dari anak itu sendiri karena tidak tahu tahu harus berbuat apa. Seringkali kita melakukan kesalahan yang akhirnya kita akan menyesalinya. Pengalaman saya pribadi menunjukan bahwa semakin saya keras terhadap anak yang sedang marah semakin anak tidak bisa dikendalikan..... mereka hanya ”takut” (bukan hormat atau segan) dan sifatnya hanya sementara. Mereka malah akan mencotoh kemarahan kita untuk marah yang lebih besar dari marah yang sebelumnya.

Beberapa tips yang dapat digunakan dalam menghadapi anak yang sedang marah sbb :

1. Pada saat sedang anak marah, jangan beri komentar apapun. Jangan menunjukkan emosi apapun. Bersikaplah seolah-olah anda sedang tidak dibutuhkan, kalau perlu sambil bersiul2 atau bernyanyi nyanyi yang syairnya agak lucu2 (alias lagu2 yang diplesetin).2. Jauhkan barang-barang berbahaya didekatnya (gunting, kaca dll), bila memungkinkan, sediakan ruangan yang 'aman' bagi anak untuk melampiaskan amarahnya. 3. Bila ternyata anak setelah sekitar 10 menit ternyata makin meraung-raung, dan mulai memukuli kepalanya sendiri, atau berusaha menyerang, arahkan untuk "pergi ke ruang/tempat yang aman". 4. Nha, biarkan marah-marah sendirian, namun tetap kita awasi untuk menjaga hal-hal yang membahayakan. 5. Kalau sudah reda, datangi dan ajak bicara ada permasalahan apa, marah sama siapa dsb. Gaya kita bertanya hendaknya selembut mungkin. Ini memang susah lho.karena kita 'kan manusia biasa yang bisa setiap saat terbawa emosi juga.6. Jangan lupa untuk selalu memberi perhatian (ajak bicara, bercanda, diskusi hal-hal yang terjadi disekeliling kita dsb) hal in efektid dilakukan pada saat anak sedang 'tidak melakukan apapun'. Jadi, dia tahu dia dapat perhatian dari kita justru kalau lagi 'manis'..

Alhamdulillah, cara seperti ini cukup efektif.Kunci utamanya adalah "hindari kebiasaan yang buruk” dan "berikan sikap yang positif".


Semoga bermanfaat
Multa

Jumat, 08 Agustus 2008

Pola Makan Sehat Untuk Balita

Balita. Seiring dengan pertumbuhan balita Anda, pola makannya pun akan berubah. Mulai banyak jenis makanan yang ia bisa dan suka makan. Tetapi yang ia bisa dan suka makan bukan berarti selalu baik untuknya. Beberapa jenis makanan yang mengandung tepung putih, lemak tinggi, gula, pewarna buatan, bahan kimia, dan lain-lain tidaklah baik untuk dikonsumsi balita Anda sehari-hari. Jadi bagaimana cara mendidik balita Anda untuk mempunyai pola makan yang sehat? Tips-tips di bawah ini dapat membantu Anda.Jadikan rumah Anda sebagai “surga nutrisi” untuknya. Anda mungkin tidak bisa terlalu mengawasi pola makan anak Anda saat ia berada di luar rumah, tetapi Anda bisa mengawasinya saat ia berada di rumah. Dengan menjaga tradisi makanan sehat di rumah Anda, dan memberikannya makanan yag tidak mengandung bahan-bahan yang tidak baik untuknya, balita Anda akan selalu memakan makanan yang bernutrisi tinggi untuk tubuhnya.

Beberapa Tips dalam memberi makan kepada Balita :

1. Berikan mereka makanan sehat yang lezat.
2. Jika Anda mengganti permen dengan potongan wortel, tentu saja balita Anda akan menganggap makanan bernutrisi tinggi dengan rasa tidak enak.
3. Berikanlah mereka makanan yang sehat tetapi lezat, buah-buahan yang menarik, dan sebagainya. Balita yang belum terkontaminasi dengan makanan yang tidak sehat akan lebih menyukai makanan sehat dibandingkan makanan ringan yang berkalori tinggi. Berikan contoh dengan pola makan Anda sendiri. Bahkan anak berusia 2 tahun akan protes jika ada standar ganda di keluarga, dimana ia harus makan yang sehat tetapi Anda memakan makanan yang tidak bernutrisi tinggi.
4. Berikan ia contoh bahwa bukan saja anak kecil yang harus makan sehat tetapi mempunyai pola makan sehat berguna bagi seluruh keluarga.
5. Beritahukan semua yang mengurus balita Anda bahwa Anda ingin mereka makan sehat. Karena bukan cuma Anda yang mengurus balita Anda, Anda harus memberitahu pengasuh mereka, guru mereka di Pre-School, TK, dan sebagainya bahwa mereka harus dibiasakan makan sehat. Ini bukan berarti mereka tidak boleh memakan kue ulang tahun saat teman atau sepupu mereka merayakan ulang tahun, tetapi hanya sebagai indikasi bahwa Anda ingin mereka makan sehat senantiasa dan bukan makan junk food/makanan yang tidak bernutrisi.Buat perjanjian dengan anak Anda. Sering kali penyebab balita Anda memakan makanan yang tidak sehat adalah pengaruh teman sebayanya. Dengan membuat perjanjian dengan anak Anda, supaya mereka menghindari makan makanan junk food/yang tidak bernutrisi saat bermain dengan teman-temannya, akan membantu anak Anda untuk mempunyai pola makan yang sehat.
6. Jangan terlalu ketat. Pada akhirnya, bila Anda selalu memaksanya untuk makan sehat, balita Anda bisa merasa frustrasi karena Anda terlalu keras mendidiknya.
7. Berikan kepadanya kesempatan sekali-sekali untuk memakan makanan junk food, sebagai “hadiah” karena ia sudah berhasil mempunyai pola makan yang sehat. Bamun batasi jumlahnya dan jangan terlalu sering membiarkannya jajan di luar. Dengan ini, rasa ingin tahunya akan terpenuhi tanpa merusak pola makan sehatnya.

Semoga tips diatas bisa bermanfaat.
Sumber :nutrisibalitacerdas.com

Minggu, 20 Juli 2008

Perkembangan kecerdasan Anak Anda

Perkembangan kecerdasan Anak Anda ada di tangan Anda Sendiri

Siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap kecerdasan anaknya ? Apakah sekolah, guru, lingkungan atau pemerintah ?

Perlu kita pahami bahwa yang paling bertanggung jawab terhadap kecerdasan anak Anda adalah Anda sendiri sebagai orang tua. Mengapa demikian ? Berikut beberapa alasannya :

Orang tua adalah "sekolah" pertama bagi kehidupan anak. Dari orang tuanya anak mendapatkan semua materi pelajaran kehidupan ini, untuk yang pertama kalinya, aktifitas sehari-hari seperti bertutur kata, cara makan, beribadah, cara melakukan perkejaan rumah sampai ritual untuk berangkat ke kantor semuanya di pelajari anak dari tingkah laku Anda sebagai orang tua.

Orang tua adalah yang paling mengetahui anaknya. Karena itulah, ia adalah orang yang paling mengerti bagaimana memaksimalkan pengembangan kecerdasannya
Anak menghabiskan sebagian besar waktu bersama orang tua. Karena itu, apa yang didapatkan anak dari orang tuanya akan menentukan bagaimana perkembangan kecerdasannya.

Masa anak adalah masa keemasan bagi perkembangan kecerdasan. Sehingga perlakukan orang tua, sangat menentukan bagaimana tingkat kecerdasannya kelak

Orang tua adalah pemegang amanah atas anak dari Tuhan. Karena itulah, ia menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas anaknya, termasuk dalam masalah pengembangan kecerdasannya.

Melihat begitu besarnya peran orang tua bagi perkembangan kecerdasan anak dan pendidikan anak, maka sudah selayaknya setiap orang tua memperhatikan masalah ini dengan lebih serius .

Disadur dari: http://www.AnakJenius.com

Kamis, 17 Juli 2008

Tips Memandikan Bayi

Air dingin dituangkan ke dalam bak mandi, tambahkan air panas secukupnya hingga suhu mencapai kurang lebih 40 derajat Celsius untuk bayi berumur sampai 2 bulan, secara berangsur angsur turunkan suhu sampai 27 derajat Celsius untuk bayi di atas 2 bulan. Isilah bak mandi dengan air setinggi kira-kira 7,5 cm dari dasar bak.

1. Bersihkan terlebih dahulu kedua matanya dengan kapas yang telah direndam air matang.
2. Bersihkan mata bayi dari ujung mata ke arah hidung, Gunakan kapas yang berbeda untuk masing-masing mata.
3. Bersihkan lubang hidung si kecil secara perlahan-lahan dengan cotton buds yang terlebih dahulu telah dicelupkan ke dalam air bersih.
4. Ganti kapas untuk masing-masing lubang hidung. Hati-hati, jangan sampai memasukkan cotton buds terlalu dalam.
5. Bersihkan daun telinga si kecil dengan cotton buds yang telah diberi baby oil. Jangan masukkan cotton buds ke dalam lubang telinga, bersihkan bagian luar telinganya saja.
6. Sebelum membersihkan tubuhnya, bukalah baju bayi secara bertahap. Mula-mula bukalah baju bagian atas, baru kemudian popok atau celana bayi.
7. Bersihkan alat kelamin dan pantat bayi dengan kapas bulat yang sudah dibasahi air. Bersihkan setiap lipatannya.
8. Kemudian mulailah menyabuni rambutnya serta seluruh badan bayi, terutama lipatan-lipatan kaki, paha, tangan serta lehernya dengan menggunakan sabun bayi.
9. Ukur kembali suhu air dalam bak mandi. Kemudian selipkan tangan kiri Anda ke bawah tengkuk si kecil, lalu pegang erat-erat ketiaknya. Sanggahlah tengkuk si kecil dengan pergelangan tangan Ibu, lalu pegang tubuhnya dengan tangan kanan Ibu.
10. Angkatlah si kecil dan masukkan ke dalam bak mandi. Sementara tangan kiri Anda menyangga kepala dan memegangi ketiaknya, tubuhnya sebagian terendam dalam air. Gunakan tangan kanan Ibu untuk membersihkan sabun di telinga, leher, dan seluruh badannya. Biarkan si kecil bermain dalam air selama sekitar 2-5 menit. Bila si kecil sudah cukup besar, berikan mainan kapal-kapalan atau bebek-bebekan agar acara mandi semakin menyenangkan.
11. Untuk membersihkan bagian belakang tubuhnya, balikkan badan si kecil perlahan-lahan, kemudian sanggah badannya dengan tangan kiri Anda dan pegang erat-erat ketiaknya. Lalu dengan tangan kanan, bersihkanlah punggungnya.
12. Setelah acara mandi selesai, angkatlah tubuh si kecil dari dalam air, lalu bungkuslah tubuhnya dengan handuk. Sambil mengajaknya bercengkrama, keringkan tubuh bayi dengan cara menekan-nekankan handuk bayi ke tubuhnya.
13. Setelah tubuhnya kering, taburkan bedak bayi di dada, perut dan punggungnya, agar tubuhnya wangi dan segar. Perhatikan setiap lipatan dan lekukan khususnya di daerah kemaluaannya. Usapkan lipatan pada kemaluan si kecil dengan baby oil.
14. Terakhir, pakaikan popok dan baju bayi, lalu sisirlah rambutnya dengan sisir khusus untuk rambut bayi.

Bila cuaca mengijinkan, ajakan si kecil jalan-jalan atau berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Sumber: Buklet Milna "Cara yang baik merawat si kecil