GrowUrl.com - growing your website

Rabu, 05 November 2008

Barack Obama, bocah kecil yang membuktikan cita-citanya

Ketika Sri Murtiningsih menanyakan cita-cita kepada murid-murid kelas III, ada yang ingin menjadi dokter, pilot, atau insinyur. Lalu, seorang bocah berambut keriting mengacungkan tangan. Dia menjawab ingin menjadi presiden.Kini, 40 tahun kemudian, bocah berambut kriting itu benar-benar telah membuktikan cita-citanya . Dialah Barack Obama AS, presiden berkulit hitam pertama, terpilih pada pemilihan tanggal 04/11/2008 . Dengan memenangi 338 daerah pemilihan mengalahkan kandidat John Mc.Cain.

Barack Obama. Banyak yang percaya pengalaman internasional Obama bisa membantu memperbaiki citra buruk yang kini disandang AS. Dalam beberapa jajak pendapat terakhir, 70 negara berharap Obama terpilih menjadi presiden AS.

Barack Obama. Cita-cita, sekali lagi cita-cita adalah sangat penting bagi anak. Jangan batasi apalagi memaksakan cita-cita anak. Biarkan mereka menentukan sendiri cita-cita, karena cita-cita mereka tentunya adalah apa yang mereka sukai. Pada usia balita s/d remaja mereka dengan tulus dan polos akan mengemukakan apa yang ia sukai menjadi cita-cita. Bagaimana Obama bisa menjadi orang nomor 1 di negara adidaya ini ? Sekali lagi karena cita-cita dan kemauan yang kuat. Bagaimana seorang bocah kecil ini yang gemar menggambar tokoh-tokoh superhero dapat merealisasikan cita-citanya ? Dorongan orang tua juga sangat penting, jangan pernah meremehkan atau mentertawai cita-cita yang dilontarkan oleh anak kita. Tanyakan saja apa yang akan kamu lakukan untuk meraih cita-cita itu, bimbing dan arahkan mereka (sekali lagi arahkan dan bukan paksakan) ke jalan dimana cita-cita itu bisa dicapai.

Jadi bila anak anda bercita-cita menjadi IR, Dr, Pedagang, Guru, Pengusaha, President jangan remehkan mereka .......... ternyata mereka bisa !!!!!!!!
Selamat Mr.President Obama ... semoga anda bisa menjadi inspirasi .... anak-anak kami, anak-anak Indonesia ..........

Semoga bermanfaat
Multa

Selasa, 21 Oktober 2008

TOMAT DONGKRAK NAFSU MAKAN ANAK

Tomat. Nafsu makan anak yang rendah sering membuat orangtua menjadi resah. Apakah gara-gara makanannya kurang enak? Mungkin saja. Atau mood makan si anak lagi kacau? Bisa jadi juga. Namun kalau ogah makan itu berlangsung lama, tentu bukan alasan makanan atau mood-nya yang jadi masalah. Untuk yang seperti ini , intervensi obat traditional seperti lempuyang wangi, temulawak, temuhitam, atau jus tomat bisa jadi jalan keluar.

Penulis: Lucie Widowati, staf Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional, Depkes, di Jakarta

Anak ogah makan memang bikin geram. “Sudah capek-capek masak, pas disuruh makan, jawabnya cuma ogah dan ogah,” bilang Astrid, ibu muda, sambil memandangi putranya yang berusia tujuh tahun. “Sudah saya bawa ke dokter, tapi tetap enggak ada perubahan,” imbuhnya.
Padahal, dalam masa pertumbuhan, anak-anak butuh nutrisi sumber energi (semisal karbohidrat dan lemak) yang cukup agar lancar melakukan banyak aktivitas. Selain itu, mereka juga butuh vitamin, mineral, dan serat, semuanya penting untuk menjaga kesehatan. Makanan yang disuguhkan ibunda di rumah setidaknya mengandung satu unsur nutrisi serta sejumlah vitamin, mineral, dan serat. Gabungan unsur-unsur itulah yang sering disebut dengan gizi.
Tomat. Nah, yang membuat Astrid pusing, Aldo, anaknya, lebih suka makan permen ketimbang makanan bergizi yang disediakan di rumah. “Lihat, badannya lebih kurus ketimbang teman-teman sebayanya yang montok-montok,” keluh karyawati sebuah Bank di bilangan Jln. Jenderal Sudirman, Jakarta, itu. Nada bicaranya seperti orang putus asa. “Omong-omong, kamu pernah mencoba jalur alternatif, enggak?” tanya Maria, rekan kerjanya tiba-tiba.
Karena efek sampinganSebagai “ibu modern”, Astrid agak gelagapan waktu ditanya soal “jalur alternatif” buat mengobati anak yang susah makan. “Memangnya ada?” sergahnya. Kepada Maria, dia mengaku selama ini lebih sering pergi ke dokter untuk meminta saran. “Dokter biasanya memberi ‘obat’ penambah nafsu makan. Tapi sampai saat ini, efeknya masih belum seperti yang saya harapkan,” jelas Astrid lagi.
Astrid mungkin kurang memahami, khasiat “penambah nafsu makan” dalam obat-obatan konvensional sebenarnya lebih merupakan efek sampingan. Khasiat utamanya, ya lain lagi. Katakanlah obat dari golongan cyproheptadin, sebetulnya merupakan obat antialergi atau antihistamin, tapi salah satu efek sampingannya memang bisa meningkatkan nafsu makan. Ada juga obat anabolik yang mengandung hormon, dan berpotensi menyebabkan pembesaran otot dan penambahan bobot badan.
Tomat. Meski sering digunakan untuk merangsang pertumbuhan anak, anabolik mempunyai efek sampingan. Obat-obat itu pula yang kerap disalahgunakan oleh sementara orang sebagai obat “penambah nafsu makan”. Jenis obat konvensional lain yang juga sering diberikan untuk mendongkrak kemauan anak makan adalah vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan beberapa suplemen makanan.
Sebenarnya, ada dua hal yang dapat menyebabkan anak kehilangan nafsu makannya. Pertama, secara fisiologis, yakni anak menderita penyakit tertentu. Misalnya, seriawan, demam, anemia, dan sebagainya. Namun nafsu makan akan pulih kembali setelah penyakitnya sembuh.
Penyebab kedua, persoalan psikis, biasa disebut anoreksia nervosa. Gejala ini umunya muncul akibat kondisi psikis si anak, seperti keadaan yang hendak berangkat remaja sehingga anak ta-kut gemuk di tengah teman gaulnya yang rata-rata kerempeng, atau adanya gangguan emosional tertentu sehingga anak tergerak menjauhi makanan. Hilangnya nafsu dan keinginan untuk makan jenis ini sering diiringi berkurangnya berat badan.
Jika memang masalah psikis yang memicu persoalan, hanya perbaikan kondisi psikis pula yang dapat membangkitkan kembali nafsu makan yang pergi entah ke mana.
Campur madu“Tadi kamu menyebut-nyebut soal resep alternatif. Maksudnya apa?” tanya Astrid, cukup mengagetkan Maria. “Masak kamu enggak tahu. Itu lo, resep tradisional yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.” Beberapa tanaman obat dan rempah-rempah yang ada di dapur, secara empiris memang dapat digunakan sebagai penambah nafsu makan. “Kalau tidak pernah membuat sendiri, cari tahu pada si mbok penjual jamu,” tambahnya.
Maria cuma geleng-geleng kepala. Astrid memang sudah terlalu lama tinggal di kota, sehingga lupa pada tanaman obat yang dulu sering ditanam ibunya di pekarangan. Dengan tanaman obat itu, si ibu dapat meramu sendiri obat penambah nafsu makan anaknya, tanpa harus berurusan dengan penjual jamu. Tentu saja dengan sedikit modifikasi. Misalnya, untuk mengurangi rasa pahit, jamu diberikan pada anak dengan mencampurkan madu di dalamnya.
Tumbuhan-tumbuhan yang bisa dimanfaatkan, salah satunya lempuyang wangi. Cara mengolahnya gampang. Ambil rimpang lempuyang wangi kira-kira seukuran 3/4 jari, kemudian cuci pakai air bersih. Setelah itu, parut dan beri air masak 3/4 cangkir. Jangan lupa, tambahkan madu satu sendok makan. Hasil parutan itu kemudian diperas dan disaring, terus diminum satu kali sehari. Tanpa pakai alat cekok, anak pasti suka, karena rasa pahitnya sudah jauh berkurang.
Selain lempuyang wangi, temulawak pun bisa dimanfaatkan menjadi ramuan penambah nafsu makan bocah, terutama balita. Temukan rimpang temulawak kira-kira yang berukuran 1/2 jari, lantas dicuci bersih. Usai dicuci, parut, dan beri air masak dua sendok makan, plus madu satu sendok makan. Lagi-lagi, setelah diparut, ramuan diperas dan disaring, kemudian diminum satu kali sehari.
Tomat. Jika tak berhasil mendapatkan lempuyang dan temulawak, cobalah dengan temuhitam. Potong rimpang temuhitam kira-kira seukuran 3/4 jari. Agar rasanya lebih enak, campur dengan gula aren, lalu cuci dengan air bersih dan rebus sampai mendidih dengan tiga gelas makan (sampai airnya tinggal 3/4 saja). Setelah dingin, larutan tadi disaring. Persilakan bocah tersayang meminumnya satu kali sehari.
Masih terasa pahitnyaBukan hanya tumbuhan yang secara tradisional dikenal sebagai tanaman obat yang bisa dimanfaatkan. Tanaman buah yang sangat dikenal, seperti pepaya pun dapat didayagunakan. Ambil daun pepaya yang agak muda dan segar, kemudian cuci pakai air bersih. Lalu tumbuk sampai halus, dan beri air masak sekitar 3/4 cangkir. Tambahkan madu satu sendok makan, lantas peras dan saring. Sama seperti ramuan sebelumnya, minum satu kali sehari.
Tak suka daun pepaya, dapatkan daun sembung. Untuk memanfaatkannya, ambil daun sem-bung sekitar satu genggam. Kemudian cuci dan rebus dengan air sebanyak tiga gelas makan, sampai airnya tersisa 3/4 saja. Tunggu sampai ramuan dingin, setelah itu saring dan minumkan pada anak, tentu setelah sebelumnya dicampur dengan madu secukupnya. Untuk menghasilkan manfaat lebih maksimal, sebaiknya diminum dua kali sehari.
Masih banyak tanaman yang bisa didaftar sebagai ramuan penambah nafsu makan, seperti brotowali, kina, serbuk biji mahoni yang semuanya berasa sangat pahit. Rasa pahit yang ditimbulkan tanaman-tanaman di atas menjadi kendala tersendiri jika hendak diberikan pada anak. Walaupun sudah diberi madu, kadang rasa pahitnya masih terasa. Itu sebabnya, tanaman-tanaman tertentu belum diuji-cobakan pada anak-anak.
Pegagan misalnya. Secara empiris, tumbuhan bernama latin Centella aciatica itu juga berpo-tensi merangsang nafsu makan. Untuk keperluan itu, pegagan bahkan sudah diujicobakan pada tikus kecil (mencit). Hasilnya, berat badan sang mencit terbukti meningkat (penelitian Yun Astuti). Setidaknya, jika dibandingkan dengan mencit yang tidak diberi pegagan, pada periode yang bersamaan.
Sebagai ramuan nafsu makan orang dewasa, pegagan biasanya dicampur dengan bahan-bahan lain. Sebanyak 20 g pegagan dicampur dengan 20 g temuhitam, ditambah 1/2 sendok teh adas, dan gula aren secukupnya, dicuci, direbus dengan 400 cc air hingga airnya tersisa 200 cc, lalu disaring. Setelah itu, airnya siap diminum. Tapi sekali lagi harap dicatat, takaran tadi untuk orang dewasa.
Jika tumbuhan-tumbuhan yang dari sononya ditakdirkan pahit itu tetap dijejalkan ke mulut anak, si buyung bisa mengalami trauma. Lama-kelamaan, anak akan membenci jamu dan lari terbirit-birit begitu melihat si mbok penjual jamu. Makanya, selain tanaman yang berasal dari kebun obat atau rempah-rempah yang ada di dapur, penambah nafsu makan yang dapat disajikan dengan lebih menarik perlu dipikirkan. Salah satunya, jus tomat.
Memang, rasa tomat agak masam. Hal itu karena tomat kaya akan garam mineral, yang dengan segera menerbitkan nafsu makan, tak lama setelah menyantapnya. Mineral-mineral ini juga merangsang pengeluaran air liur, yang menambah rasa lapar dan memungkinkan makanan dicerna dengan lebih baik.
Nah, dengan ramuan yang lebih bervariasi, maka si buyung pasti tak akan menyadari bahwa nafsu makannya sedang dipacu. Perlu diingat, jika nafsu makan si anak sudah kembali normal, berikan ramuan-ramuan tadi secara teratur, mulai dari seminggu sekali sampai sebulan sekali, tetap dianjurkan. Jangan seperti Astrid, anak sudah kurus kering, baru kasak-kusuk mencari obat mujarab

Sumber : Intisari

Kamis, 16 Oktober 2008

Pengaruh Buruk Tayangan Sinetron bagi Anak

Tayangan televisi turut berperan dalam proses pembentukan nilai-nilai yang dianut remaja. Tanpa disadari, banyaknya tayangan sinetron remaja yang mempertontonkan kekerasan, sadisme, kebencian dan gaya hidup konsumtif, telah menimbulkan pengaruh buruk pada kalangan remaja, sesuai dengan tahapan perkembangan psikologi yang tengah membentuk nilai-nilai yang dianutnya.
Menurut Wenny Pahlemy, sinetron remaja saat ini telah menjadi program andalan stasiun televisi menyusul keberhasilan salah satu sinetron remaja yang dapat meraih rating tinggi tahun 2001 lalu. Sinetron Bawang Merah Bawang Putih, misalnya, menempati peringkat ke-3 sinetron yang paling banyak ditonton pada periode 1 Januari sampai Mei 2005. Keberhasilan tersebut mendorong stasiun-stasiun televisi untuk menayangkan lebih banyak lagi sinetron-sinetron remaja, yang amat disesalkan tanpa memperhitungkan soal kualitas dan dampak bagi kalangan anak maupun remaha. Banyak sekali di antara sinetron-sinetron yang mengambil tema-tema negatif, misalnya horo, kekerasan, sadisme, kebencian, permusuhan, dan gaya hidup konsumtif serta hedonis. Ditilik dari segi kuantitas, produksi sinetron remaja juga meningkat cukup tajam. Di tahun 2004, jumlah produksi sinetron remaja adalah 3.883. Sementara, dari Januari hingga Mei 2005, jumlah produksi sinetron remaja sudah mencapai 2.011. Tak Lolos SensorSementara, Titie Said mengakui bahwa banyak sinetron yang tidak melalui sensor Lembaga Sensor Film (LSF) dengan alasan kejar tayang.

Di sisi lain, sanksi yang ditentukan sesuai UU No 8/1992 untuk pelanggaran seperti itu dinilai terlalu ringan, yakni hukuman kurung maksimal satu tahun atau denda maksimal Rp 40 juta. “Yang namanya kejar tayang, itu bisa 20 menit sebelum ditayangkan, barangnya masih di jalan. Kapan LSF sempat mensensor?” katanya. Nampaknya LSF sendiri kurang berperan dalam masalah tayangan ini, dimana begitu banyak sinetron yang menurut LSF dikategorikan sebagai tayangan untuk orang dewasa (yang harus ditayangkan setidaknya pukul 22.00 WIB), ternyata kemudian ditayangkan sebagai tontonan untuk anak atau remaja. Yang termasuk dalam kategori ini, antara lain adalah film kartun Sinchan dan sinetron Bawang Merah, Bawang Putih.

Menurut Titie, menghadapi pelanggaran-pelanggaran seperti itu, LSF tidak bisa berbuat banyak. Yang dilakukan LSF selama ini hanya mengirim surat teguran kepada pihak yang melanggar. Tindakan yang lebih tegas, lanjut Titie, seharusnya dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena komisi itulah yang memiliki wewenang. Di sisi lain, Arief Rachman menilai upaya penyaringan tontonan tidak akan banyak berhasil bila pada diri si anak sejak dini tidak ditanamkan pengetahuan untuk menyaring informasi yang diterimanya. “Kalau sejak TK, SD anak itu sudah diberi pengetahuan mana yang baik dan mana yang tidak, pada usia remaja dengan sendirinya ia sudah bisa menyaring sendiri tontonan yang baik bagi dirinya,” ujar Arief. Dia menambahkan bahwa film yang baik adalah yang mampu membangkitkan potensi spiritual, emosional dan intelektual si anak.

Nampaknya kita perlu mempertanyakan profesionalisme baik petinggi penyiaran maupun LSF sendiri ? Semoga mereka menyadari, sampai seberapa jauh mereka berperan dalam merusak para anak2/remaja kita.

Selamatkan anak2 kita dari tayangan yang negatif ini ....... !!!

Rabu, 03 September 2008

Gizi Buruk di Tengah Kemegahan Kota

Gizi.net - Gizi buruk akan terus berputar di tengah kemiskinan. Tanpa kepedulian pemerintah, warga miskin tak bisa mengubah kualitas hidupnya. Status gizi yang baik sangat diperlukan untuk anak di bawah lima tahun (balita). Pada usia ini pertumbuhan dan perkembangan otak sangat pesat. Fase-fase pertumbuhan tersebut akan terlewat jika gizi penunjangnya tidak terpenuhi.Pertumbuhan otak balita bisa tidak optimal bila terus kekurangan gizi. Akibatnya, kemampuan berpikirnya terbatas. Jika angka kasus seperti itu sangat tinggi, rantai generasi bisa terputus. Kasus balita kekurangan gizi juga terjadi di Jakarta Barat. Sedikitnya 132 balita di wilayah itu berstatus gizi buruk. Angka tersebut ditemukan melalui survei terhadap delapan kecamatan di Jakarta Barat. ''Kasus gizi buruk lebih banyak disebabkan oleh faktor sosial ekonomi masyarakat,'' ungkap Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Barat, dr Tini Suryanti.Berdasarkan data Sudin Kesehatan Masyarakat Jakarta Barat, dari 2.673 balita yang disurvei 4,9 persen terdiri dari balita berstatus gizi buruk. Dibandingkan pemkot lainnya, Jakarta Barat tergolong paling banyak memiliki balita yang berstatus gizi buruk. Menurut Tini, kenyataan itu tentu sangat mencemaskan. Dia menyarankan ibu yang sedang mengandung mengonsumsi makanan yang bergizi. Lalu, setelah mereka lahir hingga umur lima tahun juga harus tetap mendapatkan suplai makanan yang bergizi. ''Dengan gizi baik yang dihasilkan adalah aset. Namun, jika gizi buruk justru di masa mendatang menjadi beban,'' ujar Tini.Status gizi kurang tersebut dapat dilihat dari hasil kartu menuju sehat (KMS). Balita-balita tersebut memiliki berat badan di bawah garis merah. Artinya, jumlah gizi yang diperoleh masih kurang dibandingkan dengan kebutuhannya.Balita dengan kasus gizi buruk tersebut paling banyak dijumpai di Kecamatan Palmerah. Faktor kekurangan gizi pada balita di kecamatan tersebut lebih dikarenakan oleh kondisi sosial ekonomi masyarakatnya yang masih kurang mampu.Selain itu, tingkat pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap konsumsi gizi balita. Makanan bergizi yang seharusnya dikonsumsi balita bukan sekadar makanan mahal. Makanan bergizi dari bahan-bahan nabati pun sangat baik dan tidak terlalu mahal. Namun, faktor kekurangan gizi tersebut masih teratasi dan belum sampai menderita kwasiorkor (busung lapar karena kekurangan protein) dan marasmus (kekurangan kalori). Jika kasus tersebut terjadi maka penanganan selanjutnya tidak hanya melibatkan ahli gizi, tetapi juga diperlukan penanganan langsung dari dokter.Kekurangan gizi ini disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi. Penanganan terhadap kasus-kasus kekurangan gizi ditempuh dengan memberikan makanan tambahan bergizi secara gratis kepada balita-balita keluarga miskin.Masyarakat juga harus senantiasa diberi masukan untuk meningkatkan konsumsi gizi pada balita. Dewan kelurahan, kader posyandu, serta lurah juga dilibatkan untuk ikut mengatasi kasus gizi buruk pada masyarakat. ''Pihak aparat desa diharapkan turut mencari program pemecahan masalah gizi,'' kata Tini. Menurutnya, beberapa aparat desa yang terdiri dari lurah, dewan kelurahan, dan para ketua rukun warga (RW) dilibatkan dalam diskusi untuk turut memecahkan permasalahan gizi di wilayahnya. Selain program, aparat desa juga diharapkan turut mencarikan sumber dana pemenuhan kebutuhan gizi. Dekel dan kader diharapkan ikut mengatasi gizi buruk.Optimalkan PosyanduDi Jakarta Barat masih sangat sedikit ibu yang mengantarkan balitanya ke pos pelayanan terpadu (posyandu). Padahal, posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk memantau pertumbuhan dan gizi balita.Kegiatan rutin yang dilakukan di posyandu diarahkan untuk memantau pertumbuhan balita yang dilakukan melalui kartu menuju sehat (KMS) setiap bulannya. Posyandu juga memberikan konsultasi gizi, pelayanan gizi, serta kesehatan dasar. ''Di posyandu diberikan contoh-contoh makanan sehat untuk balita,'' ujar Tini. Makanan sehat yang dikonsumsi tidak harus mahal.Untuk protein nabati bisa dengan mengonsumsi tahu dan tempe. Kedua jenis makanan ini sangat murah dan bergizi. Gizi balita juga ditunjang dengan makanan pendamping air susu ibu (ASI) untuk anak usia enam hingga 11 bulan. Misalnya, tim ayam, kacang-kacangan, serta sayur.Kekurangan gizi cenderung terjadi saat pemberian ASI berhenti. Hal terburuk dari akibat kekurangan gizi bagi balita adalah terjangkitnya penyakit kwasiorkor dan marasmus. Jika balita terserang kwasiorkor, mengakibatkan anak tak bisa menolak segala jenis penyakit (anoreksia), pembesaran hati disertai infeksi, anemia, dan diare. Jika terserang marasmus balita dapat menderita diare kronik serta mengalami tekanan. Detak dan napas berkurang.Apalagi jika masalah kekurangan gizi terjadi pada ibu hamil. Bukan janin dalam kandungan saja yang ikut terancam kehilangan kualitas kecerdasan, tapi juga anak-anak dalam masa tumbuh-kembang. Terlebih lagi bila masalah ini terjadi di kota besar, seperti Jakarta, yang frekuensi dan volume polusinya sangat besar. Kandungan zat berbahaya, seperti logam berat pada emisi kendaraan, akan terisap oleh si ibu dan mengalir melalui darah menembus ari-ari sebagai barrier. Semua kandungan logam berat tadi mengganggu pertumbuhan dan fungsi otak ketika janin itu dilahirkan. Timah hitam ikut mencemari sayur dan buah-buahan yang dikonsumsi anak-anak. Beberapa tahun yang lalu United Nations Environmental Programme (UNEP) menempatkan Jakarta sebagai kota terpolusi nomor tiga di dunia setelah Meksiko dan Bangkok. Bisa dibayangkan betapa parahnya ancaman polutan emisi gas buang di metropolitan ini.Padahal, tanpa harus berhadapan dengan fakta tersebut anak Indonesia sudah tergolong lemah dan memiliki angka kematian tinggi. Berdasar catatan UNICEF, laju tingkat kematian anak Indonesia termasuk tinggi dibanding negara tetangga, seperti Thailand dan Malaysia. Sebagai perbandingan, pada tahun 1997 tingkat kematian anak di Jakarta mencapai 28, di Kalimantan 67, sedangkan di NTB mencapai 81 per seribu kelahiran. Di Thailand 30 dan Malaysia sembilan.Data UNEP lainnya menyebutkan, mayoritas anak Indonesia lebih rentan terserang penyakit dibanding dengan anak dari negara lain. Ini tak lain dipicu masalah kekurangan gizi yang sejak lama menjadi kendala utama pembangunan bangsa. Departemen Kesehatan (Depkes) mencatat pada 1999 ada sekitar delapan persen anak Indonesia kekurangan gizi. Ini artinya ada sekitar 1,8 juta anak balita di seluruh Indonesia menderita malnutrisi. Namun, realitas yang ada di lapangan bisa lebih dari itu.Secara nasional, kasus kurang energi protein (KEP) memang masih tinggi. Kondisinya makin parah karena kasus lain juga muncul, seperti anemia gizi besi, kekurangan yodium, dan kurang vitamin A.Kwasiorkor dan marasmus inilah yang menyebabkan angka KEP terus tinggi. Pada 1995 diperkirakan ada 35,4 persen anak balita yang mengalami kekurangan energi protein. Kasusnya pada 1998 meningkat, mencapai 39,8 persen. Bahkan, Unicef memperkirakan 50 hingga 70 persen anak balita di Tanah Air mengalami gizi yang sangat buruk hingga menimbulkan korban jiwa. Fakta buruk tersebut juga tecermin dalam human developmet index (HDI) Indonesia yang masih yang terburuk dibanding negara-negara lainnya. Tahun lalu HDI atau indeks pembangunan manusia (IPM) mencapai 0,682 persen, padahal tahun sebelumnya 0,684 persen.Kemakmuran suatu wilayah akan terlihat dari nilai IPM wilayah yang bersangkutan. Kalau nilai IPM tinggi maka tingkat kesejahteraan masyarakat wilayah tersebut semakin baik. Ini karena IPM mengukur tiga dimensi pokok pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar penduduk, yaitu 1) umur panjang dan sehat yang mengukur peluang hidup, 2) berpengetahuan dan berketerampilan, dan 3) akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak. Indeks yang tingkat pendapatan, harapan hidup, dan pencapaian pendidikan ini menunjukkan bahwa tahun lalu Indonesia hanya menempati urutan ke-112 dari 175 negara yang disurvei. Indonesia tentu harus bergerak cepat agar bisa mengubah citranya di mata internasional. Berdasarkan HDI, Indonesia terasa tidak punya harga diri. Indonesia tertinggal jauh dibanding dengan negara lain. Vietnam saja sudah menyusul dengan HDI 109. Indonesia hanya di sedikit atas Kamboja (130, Myanmar (131), dan Laos (135).Jakarta saja masih menyedihkan, apalagi dengan kota-kota lain di Tanah Air. Anak yang kekurangan gizi masih tinggi. Bila fakta ini terus bertambah, lalu pada saat yang bersamaan udara juga terus terpolusi maka kualitas anak akan menurun. Keduanya sama-sama berdampak buruk, bisa mengakibatkan terjadinya kemerosotan tingkat kecerdasan.

Sumber : http://www.republika.co.id