Apakah Anda mempunyai peluang hidup lebih dari 100 tahun? Tanyakan kepada ibu, berapa usianya saat mengandung Anda.
Menurut riset yang pernah dilakukan oleh para peneliti di Amerika, usia ibu saat melahirkan ikut mempengaruhi sejauh mana peluang panjang atau pendek umur anaknya kelak. Tim peneliti dari Universitas Chicago, AS, menemukan, orang yang dilahirkan saat ibunya berusia kurang dari 25 tahun cenderung berusia hingga 100 tahun atau lebih. Peluangnya dua kali lipat dibandingkan orang-orang yang dilahirkan saat ibunya berusia diatas 25 tahun. Studi ini dilakukan terhadap 198 orang AS yang mempunyai usia lebih dari 100 tahun. Mereka ternyata lahir antara tahun 1890-1893. Orang yang panjang usianya lebih dari 100 tahun itu pada umumnya merupakan anak pertama. Setelah dilakukan analisa lebih mendalam, para peneliti di AS menyimpulkan bahwa kecenderungan tersebut ternyata erat kaitannya dengan kenyataan bahwa anak-anak pertama yang dilahirkan pada saat ibunya baru berusia 20 tahunan. Temuan ini dipresentasikan pada pertemuan masyarakat gerontologi (Ilmu Usia Lanjut) AS, Minggu (19/11). Sebelumnya hasil penelitian yang didanai National Institute on Aging and the Society of Actuaries ini telah dipaparkan pada pertemuan Asosiasi Populasi AS, April 2006. Data Biro Sensus AS menunjukkan jumlah orang yang berusia diatas 100 tahun disana meningkat dari 37 ribu menjadi 55 ribu dari tahun 1990 ke 2000. Nas asal anda tahu bahwa dari data tersebut, ternyata wanita mempunyai peluang tiga sampai lima kali lebih besar untuk mencapai usia 100 tahun dibandingkan dengan pria.
Tetapi .....
Walahualam ...... Allah yang menentukan umur manusia......
Semoga bermanfaat.
Senin, 17 November 2008
Selasa, 11 November 2008
Melatih Anak Manjadi Mandiri
Mandiri ..... itulah yang akan dialami oleh anak kita kelak. Seperti kita waktu kecil masih diasuh oleh orangtua setelah dewasa kita harus berusaha sendiri untuk menghidupi diri kita dan keluarga kita. Siapkah anak anda untuk Mandiri ...? Mungkin tips berikut bisa membantu anda untuk melatih anak menjadi mandiri.
Semua orang setuju bahwa dunia anak-anak memang dunia yang sangat menyenangkan, namun sebagai orangtua tentunya kita tidak boleh memaksakan begitu saja kehendak kita dalam memberikan pendidikan kepada anak. Ada beberapa tips untuk melatih anak agar menjadi mandiri.
1. Kesempatan. Berilah anak kesempatan untuk memilih. Anak yang sudah terbiasa berhadapan dengan situasi yang telah ditentukan oleh orang lain, biasanya akan malas melakukan pilihan sendiri alias tidak kreatif. Namun sebaliknya bila mereka terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih dalam mengambil keputusan sendiri bagi dirinya.
2. Hargai. Hargailah upaya mereka. Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang dihadapi, hal ini akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil.
3. Banyak bertanya. Hindari banyak bertanya. Anak yg baru kembali dari sekolah misalnya, akan dengan mudah menjadi kesal bila dibombardir dengan serangkaian pertanyaan seperti, belajar apa saja di sekolah?, ada PR apa ? bisa gak ulangan hariannya ? dan serangkaian pertanyaan lainnya . Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek :Hallo anak bunda sudah pulang sekolah!” Kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, umumnya anak dengan sendirinya akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.
4. Menjawab Pertanyaan. Jangan langsung menjawab pertanyaan. Meskipun salah satu tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tesebut, dan tugas orangtua adalah untuk mengkoreksi dan mengarahkannya apabila salah menjawab atau berikan penghargaan kalau ia benar.
5. Melihat Alternatif. Dorong anak untuk melihat setiap alternatif dari masalah yang timbul. Dengah demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri .
6. Jangan patahkan semangatnya. Anak yang sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong terus untuk melakukannya. Jangan sekali-kali membuatnya kehilangan motivasi mengenai sesuatu yang ingin dicapainya.
7.Jangan sekali-kali menghina atau merendahkan anak. Kadang orang tua yang sedang emosi tanpa disadari mengeluarkan kata2 "bodoh kamu", "si anu lebih pintar dari kamu", "gimana sih begitu saja tidak bisa" kata-kata tersebut dapat membuat anak menjadi demotivasi dan merasa rendah diri. Sebaiknya gunakan kata-kata seperti "kalau kamu pasti bisa dengan berlatih dan belajar", "si anu memang lebih pinter dalam bidang matematika tetapi kamu lebih pintar dalam bidang bahasa daripada si anu"
Semoga bermanfaat.
Semua orang setuju bahwa dunia anak-anak memang dunia yang sangat menyenangkan, namun sebagai orangtua tentunya kita tidak boleh memaksakan begitu saja kehendak kita dalam memberikan pendidikan kepada anak. Ada beberapa tips untuk melatih anak agar menjadi mandiri.
1. Kesempatan. Berilah anak kesempatan untuk memilih. Anak yang sudah terbiasa berhadapan dengan situasi yang telah ditentukan oleh orang lain, biasanya akan malas melakukan pilihan sendiri alias tidak kreatif. Namun sebaliknya bila mereka terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih dalam mengambil keputusan sendiri bagi dirinya.
2. Hargai. Hargailah upaya mereka. Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang dihadapi, hal ini akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil.
3. Banyak bertanya. Hindari banyak bertanya. Anak yg baru kembali dari sekolah misalnya, akan dengan mudah menjadi kesal bila dibombardir dengan serangkaian pertanyaan seperti, belajar apa saja di sekolah?, ada PR apa ? bisa gak ulangan hariannya ? dan serangkaian pertanyaan lainnya . Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek :Hallo anak bunda sudah pulang sekolah!” Kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, umumnya anak dengan sendirinya akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.
4. Menjawab Pertanyaan. Jangan langsung menjawab pertanyaan. Meskipun salah satu tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tesebut, dan tugas orangtua adalah untuk mengkoreksi dan mengarahkannya apabila salah menjawab atau berikan penghargaan kalau ia benar.
5. Melihat Alternatif. Dorong anak untuk melihat setiap alternatif dari masalah yang timbul. Dengah demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri .
6. Jangan patahkan semangatnya. Anak yang sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong terus untuk melakukannya. Jangan sekali-kali membuatnya kehilangan motivasi mengenai sesuatu yang ingin dicapainya.
7.Jangan sekali-kali menghina atau merendahkan anak. Kadang orang tua yang sedang emosi tanpa disadari mengeluarkan kata2 "bodoh kamu", "si anu lebih pintar dari kamu", "gimana sih begitu saja tidak bisa" kata-kata tersebut dapat membuat anak menjadi demotivasi dan merasa rendah diri. Sebaiknya gunakan kata-kata seperti "kalau kamu pasti bisa dengan berlatih dan belajar", "si anu memang lebih pinter dalam bidang matematika tetapi kamu lebih pintar dalam bidang bahasa daripada si anu"
Semoga bermanfaat.
Penanaman Disiplin Kepada Anak

Balita Anda. Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tidak fleksibel?
Tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak adalah baik. Hal-hal yang bisa (biasa) dilakukan oleh para orangtua antara lain setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar rumah, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun juga harus memakai piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Harapan sewtiap orang tua hal tersebut dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Balita Anda. Yang menjadi masalah, tanpa disadari, ternyata rutinitas tersebut ternyata malah dapat membuat anak menjadi enggak fleksibel. Anak bisa menjadi marah-marah bila rutinitas tersebut tidak dijalankan. Misalnya pada ganti baju biasanya buka baju dulu baru kemudian celana , tetapi kadang orangtua/pembantu buru-buru dan yang pakaian yang dilepaskan celannya dulu, ini kadang dapat menimbulkan protes anak dimana dia ingin bajunya dilepaskan dulu baru celana kemudian pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi, walaupun kadang sudah dijelaskan namun tetap saja si anak tidak mau mengerti.
PENDAPAT PAKAR
Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Menurutnya, banyak kasus diatas yang dialami oleh orang tua dan anak. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Apakah ada penyebab yang lain ?"
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mencari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."
SISI POSITIF DAN NEGATIF
Balita Anda. Sebenarnya, kata Yelia, perilaku anak tersebut masih wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
Balita Anda. Sebenarnya, kata Yelia, perilaku anak tersebut masih wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
VARIASI MENJADI SALAH SATU SOLUSINYA,
"Bagaimana bila orang tua sudah telanjur, menerapkan rutinitas diatas ?"
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Fleksibel bukan berarti berubah-ubah. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
"Bagaimana bila orang tua sudah telanjur, menerapkan rutinitas diatas ?"
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Fleksibel bukan berarti berubah-ubah. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.
Balita Anda. Nah para orang tua jangan kaku dalam menerapkan disiplin kepada anak, variasi dalam penerapan disiplin dan kebiasaan, sangat membantu pola pikir anak bahwa disiplin tidak berarti harus kaku.
Semoga bermanfaat
Disadur dari :Tabloid Nakita
Rabu, 05 November 2008
Biografi Singkat Barack Obama

Pemilihan presiden di Amerika lahir dari sejarah 200-an tahun Sebuah drama politik yang melelahkan, dan telah menjadi “buku panduan” dalam kegiatan pemilihan presiden di negara-negara lainnya. Hasilnya, mau tak mau diakui, akan berpengaruh bagi hidup banyak warga bangsa lainnya. Ada yang membedakan proses pemilihan presiden Amerika tahun ini dibandingkan periode-periode sebelumnya. Tahun ini, pemilihan presiden Amerika Serikat menjadi semakin populer dan menjadi perhatian oleh banyak orang dari berbagai golongan dan kelas: mulai dari warga anak kecil di Kenya sampai tante-tante di Tegal, dari Hawai sampai Munich . Pemicunya tak lain adalah seorang kandidat berkulit hitam yaitu Barack Obama. Obama bagi banyak golongan merupakan simbol sekaligus cermin dan juga fenomena.
Obama adalah manusia abu-abu, lahir dan besar dalam persimpangan budaya yang membuat dirinya kesulitan dalam mencari jatidiri di awal masa hidupnya. Anak dari seorang Kenya berkulit hitam legam dan ibu Amerika berkulit seputih susu, yang dibesarkan secara sederhana dalam budaya kulit putih namun memilih untuk mengidentifikasi dirinya sebagai seorang laki-laki kulit hitam. Sejak kecil hanya bermimpi menjadi pemain basket profesional di NBA, dan berlabuh menjadi politisi papan atas. Sebuah biografi yang tak lazim bagi seorang kandidat presiden Amerika (dimana kecurigaan dan luka akibat politik segregasi warna kulit dimasa lalu belumlah sembuh), sekaligus biografi yang menginspirasi banyak orang.
Keabu-abuan ini sempat menjadikan Obama menjadi sasaran tembak bagi lawan politiknya, dari tuduhan Obama pernah mengenyam pendidikan di Madrasah, Obama tidak lahir di tanah Amerika sampai Obama adalah sosialis. Namun kejelian seorang Obama dalam memanfaatkan biografi dirinya adalah sebagai bukti kehebatan demokrasi di AS (Obama sering mengungkapkan: “apa yang bisa saya capai hanya bisa terjadi di negara ini, tidak di manapun”), kemampuannya memahami keinginan publik serta memformulasikan mantra perubahan dalam cara berpolitik membuatnya bisa mengarungi kerasnya jagat politik di AS. Muncul sebagai kandidat terpilih dari Partai Demokrat dengan terlebih dahulu merontokkan mesin politik kelas kakap milik dinasti Clinton, setelah pertarungan panjang dan melelahkan selama 8 bulan.
Kampanye melawan kandidat Partai Republik, John McCain, jelas bukan hal yang mudah baginya. McCain adalah figur pahlawan dalam ranah politik AS, seorang veteran perang dari keturunan dinasti pembesar Angkatan laut AS (ayah dan kakek McCain adalah admiral), pernah mendekam dipenjara Vietkong dan menerima siksaan komunis Vietnam selama lima tahun. Obama yang relatif jauh lebih muda (47 tahun, Mc Cain 72 tahun) dan minim pengalaman politik (McCain telah menjadi anggota konggres AS sejak 26 tahun lalu). Namun sekali lagi Barack Obama berhasil melalui tantangan didepannya.
Obama adalah manusia abu-abu, lahir dan besar dalam persimpangan budaya yang membuat dirinya kesulitan dalam mencari jatidiri di awal masa hidupnya. Anak dari seorang Kenya berkulit hitam legam dan ibu Amerika berkulit seputih susu, yang dibesarkan secara sederhana dalam budaya kulit putih namun memilih untuk mengidentifikasi dirinya sebagai seorang laki-laki kulit hitam. Sejak kecil hanya bermimpi menjadi pemain basket profesional di NBA, dan berlabuh menjadi politisi papan atas. Sebuah biografi yang tak lazim bagi seorang kandidat presiden Amerika (dimana kecurigaan dan luka akibat politik segregasi warna kulit dimasa lalu belumlah sembuh), sekaligus biografi yang menginspirasi banyak orang.
Keabu-abuan ini sempat menjadikan Obama menjadi sasaran tembak bagi lawan politiknya, dari tuduhan Obama pernah mengenyam pendidikan di Madrasah, Obama tidak lahir di tanah Amerika sampai Obama adalah sosialis. Namun kejelian seorang Obama dalam memanfaatkan biografi dirinya adalah sebagai bukti kehebatan demokrasi di AS (Obama sering mengungkapkan: “apa yang bisa saya capai hanya bisa terjadi di negara ini, tidak di manapun”), kemampuannya memahami keinginan publik serta memformulasikan mantra perubahan dalam cara berpolitik membuatnya bisa mengarungi kerasnya jagat politik di AS. Muncul sebagai kandidat terpilih dari Partai Demokrat dengan terlebih dahulu merontokkan mesin politik kelas kakap milik dinasti Clinton, setelah pertarungan panjang dan melelahkan selama 8 bulan.
Kampanye melawan kandidat Partai Republik, John McCain, jelas bukan hal yang mudah baginya. McCain adalah figur pahlawan dalam ranah politik AS, seorang veteran perang dari keturunan dinasti pembesar Angkatan laut AS (ayah dan kakek McCain adalah admiral), pernah mendekam dipenjara Vietkong dan menerima siksaan komunis Vietnam selama lima tahun. Obama yang relatif jauh lebih muda (47 tahun, Mc Cain 72 tahun) dan minim pengalaman politik (McCain telah menjadi anggota konggres AS sejak 26 tahun lalu). Namun sekali lagi Barack Obama berhasil melalui tantangan didepannya.
Cara kampanye Obama sejak awal telah mengubah peta dan strategi politik di AS. Kemampuannya mengeksploitasi teknologi dengan memaksimalkan potensi jaringan internet dan telepon selular sebagai basis jaringan kampanyenya menjadikannya sebagai kandidat dengan total sumbangan kampanye terbesar sepanjang masa ( 600-an Juta Dolar). Organisasi lapangan yang rapih dan tanpa lelah membuat pemilihan presiden 2008 sebagai pemilihan presiden dengan tingkat partisipasi terbesar yang pernah ada ( %), dan menjadikan daerah yang secara tradisional selalu berpihak pada Partai Republik mengubah haluan. Kemampuannya menampilkan citra pembaharu menginspirasi kaum muda serta menjadikan McCain layaknya tokoh tua yang mulai pikun. Kelihaiannya mengeksploitasi krisis finansial dan kemerosotan ekonomi AS di dunia menjadi senjata yang mematikan yang melumpuhkan John McCain. Pembawaan yang kalem dan matang juga membuat pengalaman dan status pahlawan yang disandang McCain seolah lenyap begitu saja.
Rakyat Amerika telah memilih dan mempercayai seorang presiden kulit hitam pertama dalam sejarah mereka. Barack Obama menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, menjadi pemimpin negara adidaya tunggal yang sedang dirongrong krisis ekonomi dan perang yang tak berkesudahan. Obama mengakhiri kampanye panjangnya selama 22 bulan sebagai pemenang. Seorang tokoh yang lahir dalam persimpangan budaya dunia telah muncul, dan dunia akan menantikan sejauh apa pencapaiannya
Rakyat Amerika telah memilih dan mempercayai seorang presiden kulit hitam pertama dalam sejarah mereka. Barack Obama menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, menjadi pemimpin negara adidaya tunggal yang sedang dirongrong krisis ekonomi dan perang yang tak berkesudahan. Obama mengakhiri kampanye panjangnya selama 22 bulan sebagai pemenang. Seorang tokoh yang lahir dalam persimpangan budaya dunia telah muncul, dan dunia akan menantikan sejauh apa pencapaiannya
Disadur dari : Kata-kata.com
Langganan:
Postingan (Atom)
